Penyalahgunaan NAPZA

Banyak dari orang yang sering mendengar istilah narkoba atau narkotika dan obat-obatan terlarang. Tapi, pernahkah Anda mendengar istilah NAPZA?

Narkoba atau NAPZA merupakan kepanjangan dari (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) yang bisa menyebabkan penyalahgunaan NAPZA sangat berbahya dan dapat merusak kesehatan fisik maupun mental. 

Penyalahgunaan NAPZA terjadi karena akibat faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud ini adalah rasa ingin tahu yang kemudian mencoba obat tersebut dan menjadi kebiasaan. Sedangkan untuk faktor eksternal itu sendiri bersumber dari lingkungan yang tidak sehat atau berteman dengan pengguna NAPZA.

 

Penyebab Penyalahgunaan NAPZA

Penyalahgunaan NAPZA umumnya terjadi karena rasa ingin tahu yang tinggi dan gangguan mental seperti gangguan bipolar atau skizofrenia. Akan tetapi faktor lain juga dapat memicu seseorang menyalahgunakan NAPZA, antara lain:

  • Memiliki teman yang juga pengguna NAPZA
  • Mengalami masalah ekonomi
  • Pernah mengalami kekerasan fisik,emosi atau seksual
  • Bermasalah dalam hubungan dengan keluarga, kerabat maupun pasangan

Ada 4 golongan NAPZA yang paling sering disalahgunakan, yaitu:

  • Halusinogen, seperti lysergic acid diethylamide (LSD) dan phencyclidine
  • Depresan, seperti diazepam, alprazolam, clonazepam, dan ganja
  • Stimulan, seperti dextroamphetamin, kokain, methamphetamine (sabu), dan amphetamine
  • Opioid, seperti morfin dan heroin

Fase dan Gelaja Penyalahgunaan NAPZA

Penyalahgunaan NAPZA ini yang tidak dihentikan dapat menyebabkan ketergantungan. seseorang yang mengalami ketergantungan biasa menunjukkan perilaku seperti berikut:

  • Menggunakan NAPZA terus-menerus, setiap hari atau bahkan beberapa kali dalam sehari
  • Menggunakan NAPZA guna mengalihkan pikiran yang mengganggu
  • Meningkatkan dosis NAPZA seiring berjalannya waktu, karena dosis yang digunakan lambat laun akan terasa kurang
  • Memastikan bahwa NAPZA selalu tersedia
  • Melakukan apa pun guna mendapatkan atau membeli NAPZA, seperti menjual barang pribadi hingga mencuri
  • Melalaikan tanggung jawab dalam bekerja dan cenderung mengurangi aktivitas sosial
  • Tetap menggunakan NAPZA meski sadar bahwa perilaku tersebut memberikan dampak buruk pada aspek sosial dan psikologis
  • Melakukan aktivitas yang berbahaya atau merugikan orang lain ketika di bawah pengaruh NAPZA
  • Menghabiskan banyak waktu untuk membeli, menggunakan, atau memulihkan diri dari efek NAPZA
  • Mengalami kegagalan saat mencoba untuk berhenti menggunakan NAPZA

Jika pengguna sudah mencapai fase ketergantungan dan mencoba untuk menghentikan kebiasaan tersebut, dia akan mengalami gejala putus obat atau sakau. Gejala sakau ini bisa berbeda-beda tergantung tingkat keparahan dari ketergantungan serta dari jenis NAPZA yang digunakan.

Segera hubungi rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter atau pusat rehabilitasi Ashefa Griya Pusaka jika seseorang telah menyalahgunakan NAPZA. segera hubungi dokter jika merasa:

  • Tidak bisa berhenti mengonsumsi NAPZA
  • Terus mengonsumsi NAPZA meski sadar akan bahayanya
  • Bertukar jarum suntik ketika menggunakan NAPZA

Diagnosis Penyalahgunaan NAPZA

Dalam diagnonis penyalahgunaan NAPZA diawali dengan tanya jawab terkait gejala dan riwayat penggunaan NAPZA, kemudian diikuti pemeriksaan fisik dan mental.

Serta akan dilakukannya serangkaian tes, antara lain:

  • Tes urine, untuk mendeteksi jenis NAPZA yang digunakan
  • Tes hepatitis C dan HIV/AIDS, untuk mendeteksi kedua penyakit tersebut, khususnya bagi pengguna NAPZA yang bertukar jarum suntik.

Cara terbaik untuk mencegah ketergantungan NAPZA adalah dengan tidak mencoba-coba NAPZA sedari awal. 

Perlu diketahui juga beberapa obat resep yang memiliki sifat adiktif. Oleh sebab itu, patuhi pentunjuk penggunaan dari dokter untuk menghindari ketergantungan. 

Agar tidak kembali terjerumus dalam penyalahgunaan NAPZA, sebaiknya ikuti program rehabilitasi Ashefa Griya Pusaka dan menjalani pengobatan secara rutin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.